Korupsi: Suatu Budaya yang Mendarah Daging

Korupsi: Suatu Budaya yang Mendarah Daging

Kegiatan suap-menyuap sebenarnya sudah dikenal bahkan sebelum Isa Almasih lahir ke dunia, suatu kebiasaan yang sebenarnya tidak etis untuk dibudayakan namun tetap lestari meski bumi dilanda pemusnahan massal sekalipun, tampaknya budaya korupsi seperti sudah menjadi suatu kebiasaan alamiah pada manusia atau mungkin praktek korupsi adalah salah satu kemampuan bertahan hidup yang manusia miliki, kenyataan nya banyak sekali orang yang pernah melakukan praktek korupsi dan suap-menyuap. Aku tak tau siapa yang pertama kali memperkenalkan budaya ini—aku tak perduli siapapun dia yang aku perdulikan kenapa budaya ini tetap lestari dari zaman animisme hingga kini.

Bicara soal korupsi yang pertama kali aku pikirkan adalah Indonesia. Ya, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki populasi koruptor yang cukup tinggi dari kalangan bawah hingga kalangan elit politik sekalipun, dari yang masih tak terdeteksi hingga yang sudah berjamur di dalam kamar berdinding jerusi besi. Abaikan para pejabat yang terlibat korupsi, coba renungkan bahkan kita sendiri pernah melakukan kegiatan paling haram di dunia ini, tak perduli siapa dan di mana kamu berada setidaknya kamu pernah melakukan praktek korupsi walau dengan kapasitas atau level yang lebih rendah hingga otak mu tak sanggup menganggapnya sebagai kenangan suram, begitu juga diriku.

(Baca juga: Menyikapi Intoleran yang Bergemuruh)

Orang yang melakukan praktek korupsi tak lepas dari hasrat dan nafsu duniawi, mereka hanya berpikir tentang kepuasan materil, seolah-olah mereka menikmati pemerkosaan yang dilakukan oleh aliran kehidupan sesat mereka. Tidak lain dan tidak bukan mereka hanyalah makhluk yang lupa diri. Di Indonesia sendiri ada suatu badan pemerintakan yang populer disebut KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi, red), lembaga ini cukup garang dan sadis dalam memberantas korupsi, banyak koruptor dari kalangan politisi yang berhasil ditebas dengan katana keadilan miliki KPK ini, tapi takmpaknya praktek korupsi tak kunjung musnah seolah-olah korupsi adalah komponen dari kehidupan ini. Tak luput dari itu semua sebenarnya KPK juga cukup kewalahan dalam memberantas koruptor, bukan hanya karena koruptor itu unlimited, tapi juga karena mereka pintar, ibarat pemeran antagonis dan protagonis saling bertarung tiga hari tiga malam karena sama-sama kuat, begitu juga mereka, juga ada sebagian dari mereka yang tak segan-segan untuk mengambil tindakan keji seperti yang belakangan menimpa ketua KPK, Novel Baswedan, sesaat setelah shalat subuh dirinya disiram air keras oleh orang tak dikenal, kejadian itu disinyalir terkait dengan kasus korupsi yang diselidiki beliau.

Sebenarnya korupsi bisa diberantas, tapi tidak mudah, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menanamkan jiwa kejujuran pada generasi muda agar menjunjung tinggi harkat keadilan, kejujuran, ya bisa dikatakan bahwa mereka sedari kecil harus didoktrin bahwa praktek korupsi adalah sesuatu yang haram. Benarkah akan berhasil? Seperti yang kukatakan, tidak semudah itu, sebenarnya pendidikan moral dan pancasila sudah diajarkan pada anak-anak sejak mereka duduk di sekolah dasar. Ya bagaimanapun kesadaran diri sangat penting, untuk mengurangi kebiasaan melakukan korupsi kita bisa mendidik anak untuk lebih dekat dengan Tuhan, mengajarkan nya berbagai ajaran kebajikan bahwa korupsi adalah salah-satu tindakan yang dibenci Tuhan, sebagai orang tua atau orang yang lebih tua juga kita harus andil untuk menanamkan sikap moral pada anak, menyadarkan nya agar tidak lupa diri. Walaupun begitu tetap saja ya praktek korupsi sulit untuk dibasmi walau cara-cara yang aku sebutkan sudah dilakukan berulang-kali dan berulang-kali.
Previous
Next Post »

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel