Pacaran: Sesuatu yang Sia-sia



“Bertanya pada dirimu yang ada di dalam cermin tidak akan menghasilkan apapun.”

Sewaktu dulu aku dengar kabar bahwa seorang teman akan menikah, sontak aku terkejut setengah mati, seseorang yang mendapat julukan “jones lumutan” tiba-tiba saja memberi kabar bahwa dirinya akan menikah, aku bertanya kenapa dia tiba-tiba ingin menikah padahal dia sendiri tidak punya pacar, “aku mau nikah dengan teman kampus, John, hehehe” jawab nya sambil tertawa kecil. Saat itulah aku menyadari bahwa pacaran itu bukanlah hal yang penting.

Pacaran, mendengar kata “pacaran” tampaknya sudah tak asing lagi di telinga kita, bukan? Pacaran adalah istilah yang sering digunakan oleh anak muda zaman sekarang, definisi nya pun begitu ambigu, pacaran memiliki istilah yang berbeda, tergantung sudut pandang setiap orang, ada yang mengatakan bahwa pacaran adalah fase seleksi dimana kita akan menyeleksi seseorang yang pantas untuk dijadikan pendamping hidup, kelihatan konyol ‘kan? Artinya kita sedang memperlakukan perasaan orang layaknya ternak yang masuk kelas jumbo, atau kelas ekonomis, ada juga yang mengatakan bahwa pacaran adalah istilah untuk dua orang yang saling mencintai bersatu, kenapa tidak nikah aja sekalian. Masa-masa remaja atau masa pubertas adalah masa-masa yang penuh kekonyolan, masa pubertas adalah masa dimana kita pertama kali jatuh cinta atau hati berbunga-bunga (katanya).

Saat ini banyak orang berpacaran tapi tujuan nya bervariasi, sebut saja seorang wanita yang berpacaran dengan seorang pria karena pria itu tampan, atau kaya, tapi secara garis besar, orang berpacaran karena pacaran sudah menjadi gaya hidup yang mendarah daging, sebut saja seorang wanita dan pria yang katanya sedang dilanda tsunami cinta, kurang afdol rasanya kalau tidak pacaran, yang lebih konyol lagi ada yang bergonta-ganti pacar lebih dari lima kali, orang yang seperti itu punya spekulasi bahwa mereka tak kunjung menemukan seseorang yang pantas dijadikan pendamping, pada dasarnya orang seperti itu adalah orang tak memiliki kemampuan, tak bisa memahami dirinya sendiri, diri orang lain, terburu-buru, padahal mereka percaya lho bahwa jodoh sudah diatur Tuhan. Sebenarnya pacaran itu adalah hal yang tidak penting, pada dasarnya pacaran adalah hubungan pra-nikah dimana sepasang manusia menjalin hubungan untuk saling memahami satu sama lain lebih dalam sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan, sebenarnya itu adalah hal yang tak penting, untuk memahami manusia bukan berarti harus berpacaran, seseorang bisa memahami orang lain dengan syarat orang itu mau mencoba menyelami diri orang yang ingin dipahami nya. Pada dasarnya berteman dan berpacaran tidak ada bedanya jika tujuan nya untuk memahami satu sama lain, seperti hal nya teman ku itu, mengapa dia bisa menikah dengan teman kampus tanpa melewati fase berpacaran? Karena untuk memahami satu sama lain berpacaran tidak penting, itulah jawaban nya.

Lagi, status sebagai “pacar” itu multifungsi lho, dan sangat mengerikan, sebut saja si Mawar, setelah berpacaran dengan si Afro mereka sering melakukan hal-hal yang diluar batas, contohnya mereka berpelukan, berpegangan tangan, ciuman, bahkan tidur seranjang tanpa sehelai daun, keren bukan? Ya, walau tidak semua, hanya saja aku memberi contoh kecil bahwa status teman dan pacar itu memiliki setidak nya 80% perbedaan. Ketika status mu berubah menjadi “pacar” kamu bisa melakukan beberapa hal yang tidak bisa dilakukan oleh dirimu jika berstatus “teman”, sebenarnya tidak masuk akal, seperti User yang mengakses sistem root layaknya Super Administrator, dalam agama Islam berpacaran itu adalah hal yang tabu atau melanggar aturan, ini membuktikan bahwa pacaran bisa menjadi sesuatu yang fatal, hal itu sudah terumuskan dalam Al-Quran yang diturunkan ribuan tahun lalu.

Tampak nya ada beberapa orang yang mencoba berpikir positif sehingga terciptalah perspektif yang berbeda, mereka berasumsi bahwa pacaran adalah hal yang positif jika dilakukan dengan cara positif, aku bertanya sebenarnya budaya berpacaran itu dari mana sih? Budaya barat seperti Amerika, Inggris sana, atau budaya timur dari Arab Saudi sana, atau Indonesia? Tidak! Indonesia tidak punya budaya seperti berpacaran, artinya bahwa banyak anak muda yang mengikuti trend tanpa tau sebenarnya apa yang mereka lakukan, seperti yang aku katakan di atas tadi, kurang afdol jika tidak jadian, yap kata “jadian” adalah istilah super absurd.

Perspektif masyarakat yang sangat memaksa bahwa orang yang tidak berpacaran berarti belum resmi, banyak orang yang berpikiran sama seperti diriku bahwa pacaran itu bukan sesuatu yang penting terpaksa hanyut kedalam perspektif masyarakat itu. Seseorang memahami satu sama lain, mereka punya perasaan yang sama tapi tidak menjadi pacar, lalu membuat komitmen akan menikah, tampak nya itu sesuatu yang sangat sulit dilakukan saat ini, kata “pacar” juga bisa dijadikan sebagai jaminan, maksudnya begini, jika seseorang tidak menjadi pacar maka seseorang itu akan mudah direbut oleh orang lain, atau ketidakpastian menghantui dirinya, apa yang mempengaruhinya? Kurang memahami, kurang mempercayai, alhasil status pacar dianggap bisa menjadi jaminan, tetapi itu juga belum cukup, walau status pacar sudah diberikan tapi seseorang itu tetap direbut oleh orang lain maka timbul lah istilah “selingkuh”, dulu aku pernah bertanya pada seorang teman apa perbedaan menjadi pacar dan teman lalu dia menjawab bahwa menjadi pacar berarti seseorang yang dicintai menjadi miliknya, sangat aneh mengapa dia mengakui seseorang menjadi miliknya dalam hubungan ecek-ecek, tidak resmi, atau bahkan dilarang agama, kalau begitu sama halnya aku berkata “hei, itu anjing ku” pada seseorang pemilik anjing hanya karena anjing nya jinak padaku, sungguh konyol membuat ku pengen muntah saja. Dulu ada film yang diproduksi tahun ’90-an, pemain utamanya berkata “aku hanya ingin kau tau bahwa aku mencintai mu, kalau kamu juga mencintai ku tetaplah jadi teman ku, dan kelak kita akan menikah, dan hidup bersama” perkataan yang keren bukan?

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” seorang pria bertanya. Tidak ada yang perlu dilakukan, untuk menikahi seorang gadis cantik atau pria tampan tidak perlu melabeli nya sebagai “pacar” layak nya makanan kadaluarsa yang siap dimusnahkan dalam tungku pembakaran, untuk memahami dan mencintai seseorang tidak perlu menjadi pacar layaknya anjing yang segera dirantai karena takut melarikan diri, mencintai seseorang tidak perlu jadian, tetapi untuk menikah kualitas cinta adalah faktor yang sangat krusial, karena secara universal pacar dan teman itu tidak ada bedanya, jadi jangan lakukan hal yang sia-sia, tetapi secara spesifik pacar dan teman itu punya perbedaan setidak nya 80% seperti yang aku katakan di atas, bahkan ketika kamu mendapatkan label “pacar” hak-hak kamu dalam kehidupan bisa direnggut sewaktu-waktu, artinya kamu tidak lagi punya kebebasan dalam hidup walau kamu sudah mematuhi setiap undang-undang dan norma yang berlalu di masyarakat, sangat menakutkan, aku bahkan selalu berharap bertemu dengan wanita yang memiliki pandangan yang sama dengan ku, aku ingin berteman dengan nya sebelum menikah dan ketika sudah menikah.
Previous
Next Post »

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel